Rabu, 26 Februari 2014

Tradisi Perhitungan pernikahan berdasarkan hari kelahiran di daerah Pemalang


Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa tengah. Tepatnya ditengah antara kabupaten Pekalongan dan Tegal. Banyak budaya ataupun adat istiadat yang ditinggalkan oleh para pendahulunya. Salah satu adat yang sangat mencolok adalah perhitungan jodoh menggunakan weton atau hari kelahiran. Banyak sekali warga pemalang percaya akan hal itu, disisi lain percaya atau tidak banyak terjadi hal yang kurang wajar apabila pasangan ataupun keluarga melanggar aturan tersebut. Contohnya baru seumur jagung pasangan itu bercerai dan meninggalnya salah satu orang tua dari pasangan itu.
Banyak juga pasangan yang gagal menikah dikarenakan menurut orang pintar ( orang yang tau perhitungan jawa) hari kelahiran pasangan itu tidak bagus dan apabila dipaksakan akan banyak sekali halangan yang akan menimpa pada bahtera rumah tangga mereka. Sehingga kebanyakan pasangan memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan dan kandas ditengah jalan.
Dari sini ada hal yang sangat menarik untuk dikaji bagaimana seorang yang bisa menghitung perjodohan menggunakan hari kelahiran. Pada dasarnya perhitungan jodoh itu didasarkan pada hari kelahiran dan pasarannya. Setiap hari dan pasaran tersebut mengandung nilai-nilai (neptu) ataupun angka-angka tertentu. Adapun nilainya adalah
No
Nama hari
Nilai (Neptu)
1
Minggu
5
2
Senin
4
3
Selasa
3
4
Rabu
7
5
Kamis
8
6
Jum’at
6
7
sabtu
9

Sedangkan untuk pasarannya juga mempunyai nilai tersendiri, yaitu :
No
Nama pasaran
Nilai (Neptu)
1
Legi
5
2
Paing
9
3
Pon
7
4
wage
4
5
Kliwon
8
Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon penganten yaitu anak perempuan dan anak lelaki masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang (dikurangi) sembilan.
Misalnya :
hari lahir Diva adalah hari sabtu (neptu 9) pahing (neptu 9) jumlah 18 dikurangi 9 sisa 9.
Sedangkan kelahiran anak laki-laki Kamis (neptu 8) kliwon (neptu 8) jumlah 15, dibuang 9 sisa 7
Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini:
Apabila sisa:
1 dan 4 : banyak celakanya
1 dan 5 :bisa
1 dan 6 : jauh sandang pangannya
1 dan 7 : banyak musuh
1 dan 8 : sengsara
1 dan 9 : menjadi perlindungan
2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya
2 dan 3 : salah seorang cepat wafat
2 dan 4 : banyak godanya
2 dan 5 : banyak celakanya
2 dan 6 : cepat kaya
2 dan 7 : anaknya banyak yang mati
2 dan 8 : dekat rejekinya
2 dan 9 : banyak rejekinya
3 dan 3 : melarat
3 dan 4 : banyak celakanya
3 dan 5 : cepat berpisah
3 dan 6 : mandapat kebahagiaan
3 dan 7 : banyak celakanya
3 dan 8 : salah seorang cepat wafat
3 dan 9 : banyak rejeki
4 dan 4 : sering sakit
4 dan 5 : banyak godanya
4 dan 6 : banyak rejekinya
4 dan 7 : melarat
4 dan 8 : banyak halangannya
4 dan 9 : salah seorang kalah
5 dan 5 : tulus kebahagiaannya
5 dan 6 : dekat rejekinya
5 dan 7 : tulus sandang pangannya
5 dan 8 : banyak bahayanya
5 dan 9 : dekat sandang pangannya
6 dan 6 : besar celakanya
6 dan 7 : rukun
6 dan 8 : banyak musuh
6 dan 9 : sengsara
7 dan 7 : dihukum oleh istrinya
7 dan 8 : celaka karena diri sendiri
7 dan 9 : tulus perkawinannya
8 dan 8 : dikasihi orang
8 dan 9 : banyak celakanya
9 dan 9 : liar rejekinya
Dari hasil tersebut menurut perhitungan itu anatara Diva dan Aldi dipercaya akan dekat sandang pangannya atau bisa dikatakan kelak ppasangan tersebut akan mudah mencari kebutuhan dan cenderung sukses.
Dari perhitungan itu banyak hal yang akan terjadi yaitu bisa saja pasangan akan melanjutkan kepernikahan apabila menurut perhitungan itu baik. Namun Apabila hasilnya tidak bagus pasangan cenderung mengurungkan niatnya untuk menikah. Percaya atau tidak kita sekarang, tergantung pada pribadi masing-masing. Namun inilah yang dipercaya sebagian dari masyarakat pemalang, tradisi dan adat yang sudah turun temurun susah untuk diubah dan patuh akan perhitungan tersebut.
Pada dasarnya perhitungan jodoh menurut hari kelahiran (weton) itu menggunakan teori bilangan. Yaitu pada subbab modulo. Dimana modulo dari penjumlahan antara hari dan pasaran menggunakan modulo 9. Sehingga sisa-sisa yang didapat itu merupakan sisa dari modulo 9 tersebut.
Dari situ kita tahu bahwa sebenarnya tradisi perhitungan jodoh menggunakan hari kelahiran menggunakan konsep matematika. Dan kita juga tahu bahwa matematika pun berandil besar pada sebuah tradisi atau adat yang berkembang dimasyarkat khususnya untuk perhitungan perjodohan.